Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Obrolan Ringan dalam Derasnya Hujan

https://pixabay.com/id/photos/hujan-deras-musim-hujan-samoa-42/

Malam itu pertemuan ke-29 dalam sebuah perkumpulan sederhana bertajuk Pansaga (Pangaosan Keluarga). Pangaosan adalah nama lain dari pengajian. Pansaga sendiri dimulai sejak pertengahan syawwal tahun 1442 ini. Bermula dari keprihatinan seorang kawan terhadap kondisi setiap individu yang jarang bertemu. Padahal dulunya kita beraktivitas, berkumpul, ngopi dan mengaji nyaris setiap minggu. Seru. Seperti kata peribahasa "Pucuk merindu ulat pun tiba". Dengan frekuensi kerinduan yang seirama, akhirnya kami bersepakat untuk menggelar kegiatan rutin malam ahadan ini. Setiap malam Ahad berjalan, alhamdulillah sudah mencapai pertemuan ke-29.

Meskipun saya sebagai salah satu inisiator kegiatan Pansaga ini, namun sejujurnya dalam hal kehadiran saya termasuk minal mutaakhirin, alias kerap datang terlambat. Namun pada pertemuan ke-29 ini sudah terbayar lunas, dengan datang paling awal. Alhamdulillah, mudah-mudahan trend positif ini bisa dipertahankan.

Derasnya hujan yang mengguyur desa kami tidak meruntuhkan semangat untuk berjalan bersama Sang Muhammad Istimewa, si anak cikal yang selalu ingin membersamai ayah ngopi bareng. Seruput kopi dari tuan rumah terasa sangat nikmat memudarkan kebekuan cuaca dingin yang menggigilkan tubuh ini.

Malam Ahad adalah anugerah. Karena bagi pegawai dan anak sekolahan adalah malam santuy. Bahkan bagi remaja jaman dulu merupakan malam yang asyik sebagaimana dalam lagu Bang Jamal Mirdad. Kalau yang masih ingat lagunya berarti saat ini sudah tua. hehehe. 

Kembali ke ngopi. Sebagaimana nikmatnya ngopi tak sekedar seduhan biji kopi pilihan disertai gula agar sedikit ada manis-manisnya. Maka, kopi pun membutuhkan teman berupa kudapan, gorengan atau apa sajalah. Apapun itu intinya, terima, nikmati, syukuri. Karena posisi tamu mesti menghormati tuan rumah, ya.... Tak lupa kami bumbui dengan obrolan ringan ngalor ngidul. Sambil sesekali melihat jam tangan digital smartwatch karena menunggu beberapa personil yang belum hadir.

Diantara salah satu personil yang paling ditunggu adalah Imam Masjid Al-Amin. Beliau merupakan orang yang dituakan sejak kami beraktivitas jauh sebelum masa pandemi. Alasan tepatnya tiada lain karena beliau merupakan orang yang istiqamah, selalu hadir nyaris dalam setiap acara atau perkumpulan. Prinsip kuat ajaran habaib para gurunya dari Cirebon nampaknya mendarah daging pada dirinya. "Shalat, shalawat, berjamaah, istiqamah". Ini poin penting yang pernah terlontar dari lisannya. Dan pada detik-detik dimulainya acara Pansaga 29 ini beliaupun akhirnya datang juga.

Setelah kami merasa cukup rehat dan ngopi babak pertama, maka dilaksanakanlah acara inti. Dimulai dengan debaan dilanjutkan dengan zikir sab'iyyat dan dipungkasi dengan diskusi keagamaan untuk menambah wawasan dan kecintaan kepada kemuliaan ajaran Islam ini.

Untuk pertemuan kali ini kita tidak membongkar kitab khas pesantren. Namun, diskusinya mengalir saja. Diantara poin perbincangan yang menurut saya penting dicatat saat ini, misalnya:

  1. Dalam hal adab makan minum, selain kita dianjurkan untuk membaca basmallah, menggunakan tangan kanan, dan mengambil makanan terdekat. Juga kita tidak diperkenankan untuk meniup makanan/minuman. Tentu hal ini bukan sebatas larangan agama melainkan terdapat hikmah yang besar terbukti dalam tinjauan medis.
  2. Selain itu karena faktor kebiasaan, kita suka makanan/minuman yang panas. Terlebih bagi saya yang dari kecil tinggal di pegunungan ini. Padahal sebaiknya makanan/minuman yang baik itu disantap ketika sudah dingin. Dan lebih baik lagi kalau dinginnya alamiah.
  3. Kita juga memperbincangkan apa itu NU dan bagaimana proses kelahiran ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia ini. Sungguh jam'iyyah ini bukan organisasi biasa, sangat luar biasa. Mungkin perlu bahasan khusus untuk menuliskannya.
  4. Bukan suatu kebetulan, karena memang pendiri Muhammadiyah dan NU itu adalah orang seperguruan. Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Ahmad Dahlan itu satu guru hanya beda cara dakwahnya saja. Belakangan, para oknum lah yang selalu membenturkan kedua organisasi ini. Karena para penerusnya berbeda-beda pemikiran
  5. Gus Baha sebagai idola baru para santri di Jaman ini. Penampilannya yang khas dengan penyampaian ilmu yang renyah, sederhana, namun berbobot mampu menjadi magnet tersendiri bagi dunia Islam saat ini.
Demikian cerita Jihad atau ngaji ahad yang bisa saya rangkum dalam artikel hari ini. Semoga khulasoh sederhana dan apa adanya ini bisa bermanfaat. Amin



Posting Komentar untuk "Obrolan Ringan dalam Derasnya Hujan"