Masjid Al-Amin Dari Awal Reformasi Sampai Masa Pandemi
Catatan Hari Kedua
Tepat hari kedua ini agenda warga Sagarahiang untuk Masjid Al-Amin adalah membersihkan reruntuhan. Sejak malam hari Pak Ketua sudah memberikan arahan agar semua panitia kompak merapatkan barisan. Karena sebelum "Buldozzer" datang, terlebih dahulu harus mengamankan barang-barang berharga seperti kusen, lampu, kabel dan segala benda lainnya yang sekiranya masih dapat dimanfaatkan. Kabarnya mesin penghancur tembok akan segera didatangkan untuk meratakan fisik bangunan masjid kebanggaan warga Sagarahiang ini.
Sebagai warga biasa, yang jarang bisa membagi waktu, sebenarnya saya ingin ikut andil dalam kerja bakti sedari pagi. Sayangnya, masih ada keperluan keluarga yang tak dapat ditunda. Namun, Alhamdulillah menjelang siang masih sempat nimbrung walaupun hanya sebentar. Itupun lebih banyak kongkow bercengkerama dengan sahabat karib daripada berjibaku turut serta membersihkan reruntuhan. Tapi sudahlah lumayam daripada tidak sama sekali.
Sambil ngobrol asyik ngalor-ngidul saya mengamati warga yang bekerjasama. Sungguh mengagumkan betapa bagusnya kesadaran mereka berkorban untuk kepentingan umum. Semoga apa yang diberikan baik itu ilmu, tenaga, pikiran, maupun harta benda berbuah pahala berlipat ganda dari Allah Swt. Dan keberkahannya semoga mengalir kepada anak-cucu, sehingga estafet kebaikan ini terus berjalan dari generasi ke generasi. Amin.
Kabar-kabar Gembira
Selain itu, di hari kedua ini pun ada kabar gembira berupa informasi dari bendahara. Bahwa telah ada pemasukan ke rekening Panitia Pembangunan Masjid dari orang yang tak dikenal. Masyaa Allah ini menunjukkan pertolongan Allah itu begitu dekat. Allah sangat Maha Kuasa untuk menggerakkan hamba-hamba-Nya dalam berderma. Mereka tidak takut kekurangan harta benda, karena yakin dengan jaminan Allah siapa yang menolong Allah, pasti Allah akan menolongnya. Menolong Allah maksudnya mengagungkan syiar-syiar Allah. Dan pembangunan masjid ini merupakan salah satu bentuk dari syiar Allah.
Orang yang mengagungkan syiar Allah itu tanda dia memiliki ketakwaan dalam hatinya. Maka selagi sempat, manfaatkan kesempatan yang terbuka lebar ini untuk memperbanyak dan memperluas tabungan kebaikan untuk bekal di akherat nanti. Warga masyarakat Sagarahiang sedang membangun masjid Al-Amin ini Alhamdulillah tidak sampai mengemis-ngemis di jalanan. Tetapi berusaha untuk memberdayakan kekuatan berjamaah dengan 2000 rupiah per-KK setiap hari. Namun bukan berarti akan menolak jika ada donatur luar yang ikhlas mendermakan hartanya untuk kesuksesan tujuan mulia ini.
Para mukimin di Desa ini bukanlah superman, namun butuh bekerja sama dengan hamba-hamba Allah lainnya di manapun. karena dengan bekerja sama ini kita menjadi superteam. Sebuah ikatan hati di jalan Allah yang nantinya akan menjadi tabungan masa depan untuk kemaslahatan bersama. Semoga semakin banyak hamba Allah yang terketuk hati untuk perjuangan ini.
Dan ada hal menarik lainnya yang ditemukan hari ini. Teka-teki tentang kapan terakhir masjid Al-Amin dilakukan renovasi terjawab sudah. Hal ini sebagai mana ditemukan tulisan besar dalam beton di atap masjid bertuliskan RAJAB 1998. Lucu juga ya, mestinya Rajab 1435 H. hehehe. Dan kalau dihitung dari sekarang sekitar 23 tahun yang lalu ya. Kita ingat tahun 98 itu merupakan masa bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu transisi antara orde baru ke orde reformasi. Jadi tidak berlebihan kalau artikel ini berjudul Masjid Al-Amin Dari Awal Reformasi Sampai Masa Pandemi.
Masa pandemi, segalanya dibatasi. Namun membangun masjid adalah salah satu upaya mengundang pertolongan Allah. Dengan momentum membangun masjid Al-Amin di masa pandemi covid 19 ini mudah-mudahan menjadi wasilah pandemi segera usai. Dan hujan pun pasti reda. Badai pasti berlalu. Pandemi pun segera pergi, Insyaa Allah. Sekian, silakan share. Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Masjid Al-Amin Dari Awal Reformasi Sampai Masa Pandemi"