Sentuhan Geli Sang Penggali
Ada yang istimewa di hari ketiga proses pembangunan masjid Al-Amin. Tepatnya saat ini berada pada fase penghancuran. Kalau mau disimpulkan, prinsipnya adalah bagaimana caranya bisa meratakan bangunan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dan jauh-jauh hari rencana ini telah dipikirkan matang-matang oleh panitia, khususnya para pamuda. Tujuan utama tiada lain agar pekerjaan bisa berjalan secara efektif dan efisien. Dan hasil akhirnya mengerucut pada satu keputusan bulat yaitu dengan menggunakan alat berat.
Kata "menghancurkan" ini bisa berkonotasi negatif, namun tergantung konteks dan sudut pandang. Bahkan sebagai sebuah strategi, itu bisa berubah menjadi positif-produktif. Saya jadi teringat kata-kata seperti ini:
"Jatuh untuk bangun lagi, mundur untuk maju, mengalah untuk menang, ngerem untuk ngegas, dan menghancurkan untuk membangun kembali."
Eksekutor Itu Bernama Ekskavator
Dan alat berat sebagai eksekutor penghancur kokohnya tembok itu bernama ekskavator. Pada umumnya orang lebih mengenalnya dengan sebutan Beko. Beko atau ekskavator ini sebagaimana namanya berasal dari kata excavation bermakna menggali. Karena alat ini sebenarnya berfungsi untuk proses penggalian.
Kehadiran gajah besi ini seolah menjadi magnet tersendiri bagi para warga. Mereka merasa penasaran untuk menikmati pemandangan yang tak jamak ini. Dan sambil mengasuh si cantik, saya pun menyaksikan bagaimana proses penghancuran gembok masjid Al-Amin Sagarahiang ini secara perlahan tapi pasti.
Sedikit demi sedikit bangunan ini rata dengan tanah. Menyaksikan pemandangan ini pun cukup melelahkan, apatah lagi jika prosesnya dilakukan secara manual oleh tenaga manusia. Tak terbayang melelahkannya. Dan sudah pasti akan menghabiskan waktu yang cukup lama.
Anugerah Allah Teristimewa
Beruntung manusia diberi kecerdasan menciptakan alat seperti Beko ini. Dalam sejarah, kemajuan peradaban manusia ini ditentukan oleh akalnya. Akal sebagai nikmat Allah ini hendaknya kita syukuri dengan menggunakannya untuk kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.
Dengan akalnya manusia mampu mencipta sesuatu yang tak bisa diciptakan oleh makhluk Allah lainnya. Sebagai contoh dalam hal tempat tinggal. Coba kita perhatikan perkembangan bentuk rumah dari dulu hingga sekarang. Dulu orang membuat rumah berupa goa, bilik bambu, dan lainnya yang sekarang kita anggap sederhana. Dan terus berkembang sesuai jamannya hingga menjadi bangunan megah berbeton seperti sekarang.
Bandingkan dengan burung. Tempat tinggal burung, mungkin dari zaman Nabi Adam sampai sekarang tidak berubah. Hal ini karena hewan ini tak memiliki akal layaknya manusia. Masyaa Allah, betapa besarnya karunia Allah yang satu ini. Dengan karunia akal ini kita bisa terus-menerus berkreasi dan berinovasi. Namun tetap bersandar pada nilai-nilai keimanan. Sehingga kita tidak mendewakan akal ini. Justru semakin bersyukur kepada Allah yang memberikan kita akal.
Kembali ke Ekskavator
Sihir Sang penggali yang meruntuhkan ini masih menghipnotis warga untuk terus asyik memelototinya. Sungguh sangat dahsyat tenaganya. Suara paruhnya mengerok beton sangat menggelikan. Dan hanya dalam beberapa sentuhan roboh juga masjid Al-Amin kebanggaan warga Sagarahiang ini.
Sebenarnya menghadirkan alat ini pun tidaklah mudah. Dalam prosesnya, para pemuda berjuang secara heroik untuk mengawal perjalanan Sang Eksekutor. Tak peduli hujan deras, mereka dengan ikhlas dan bersemangat memastikan Beko naik ke perbukitan ini dengan selamat. Walhasil Alhamdulillah sampai juga.
Semoga bermanfaat dan Semoga semua yang berjuang untuk tegaknya syiar Allah ini diberi kekuatan, kesehatan serta keikhlasan. Amin. Dan inilah perjuangan Tihothat Antara Pemuda Masjid vs Beko:

Posting Komentar untuk "Sentuhan Geli Sang Penggali"